Direct Marketing & WhatsApp
Direct Marketing & WhatsApp

Optimalisasi Stimulus Sektor Properti Kendala dan Permasalahannya

Saat ini terjadi tren kenaikan properti, kondisi ini terjadi dikarenakan makroeconomi dan vaksinasi Covid-19 berlangsung cukup baik disamping itu kenaikan sektor komoditas juga cukup mempengaruhi terjadinya kenaikan tren tersebut. Pasalnya, ketika harga komoditas tinggi, para pemilik perusahaan komoditas banyak melakukan investasi properti

Kondisi tersebut tidak lepas dari kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah yang dilakukan saat ini, yaitu diberlakukanya pemangkasan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan melalui Bank Indonesia pemerintah mengeluarkan regulasi yang memungkinkan perbankan dengan Non-Performing Loan (NPL) di bawah 5 persen untuk memberi kredit pemilihan rumah (KPR) dengan uang muka (Down Payment/DP) 0 persen

Kebijakan tersebut otomatis berdampak positif pada industri properti yang selama setahun ini mengalami penurunan dikarenakan adanya pandemi, kebijakan tersebut mendorong terjadinya kenaikan penjualan rumah Ready Stock sebesar 13,1 persen (naik  hingga 2 persen), seperti yang terjadi di Jabodetabek-Banten pada kuartal 1 tahun ini penjualan properti mengalami kenaikan sebesar 6,47 persen dan 370,8 persen kenaikan penjualan untuk rumah siap huni, tetapi sebaliknya untuk penjualan rumah inden tidak mengalami kenaikan malah mengalami penurunan sebesar 10,40 persen.

Namun dampak positif tersebut belum bisa dikatakan bahwa kebijakan yang diberlakukan oleh pemerintah tersebut sesuai harapan atau bisa dikatakan hasilnya belum maksimal, mengapa demikian ?..Karena masih ada beberapa permasalahan yang menjadi kendala optimalisasi relaksasi tersebut. Secara singkat ada beberapa permasalahan yang timbul, diantaranya adalah:

  1. Munculnya mitigasi risiko dari perbankan untuk DP 0 persen, adanya kebijakan perbankan yang diskriminatif terhadap sektor pekerjaan tertentu (seperti sektor retail, pusat perbelanjaan, dan perhotelan misalnya) menyebabkan bertambah sulitnya bagi para pencari rumah. Cukup dimengerti perbankan melakukan proteksi tersebut tujuannya adalah untuk menekan terjadinya kredit macet (NPL) dengan cara menambah kriteria debitur, mengingat masih ada tekanan ekonomi akibat pandemi. Seyogyanya perbankan harus mencari cara untuk melakukan pelonggaran persyaratan dan kebijakan supaya tidak terjadi diskriminatif disatu sisi tetapi aspek kepentingan perbankan tidak dirugikan.
  2. BI 7-Days Repo Raye belum sepenuhnya membuat suku bunga perbankan turun, meskipun tren penurunan terjadi tetapi penurunannya belum cukup memenuhi harapan konsumen, bagi konsumen penurunan tersebut masih dirasa belum cukup rendah.
  3. Tidak semua pengembang terpengaruh oleh PPN 0 persen tersebut, ternyata PPN 0 persen ini hanya berpengaruh pada pengembang sekala besar yang memiliki rumah siap huni, sedangkan untuk pengembang menengah yang terkendala permodalan kemampuan untuk menyediakan rumah siap huni tersebut akan sangat terbatas.
  4. Semestinya relaksasi dilakukan dengan rentang waktu yang lebih panjang, setahun misalnya, karena periode kebijakan insentif PPN yang berlaku sampai Agustus tahun ini dianggap terlalu singkat bagi pengembang, sebab proses pembelian properti yang membutuhkan memakan waktu yang tidak sebentar.

Sebaiknya pemerintah dalam hal ini perbankan untuk melakukan terobosan untuk meminimalkan permasalahan dan kendala yang terjadi, supaya hasil dari kebijakan stimulus ini tercapai secara maksimal.

Penulis/Editor : Haris Sukarna Yudhabrata

Sumber :

https://ekonomi.bisnis.com/read/20210408/47/1378531/wah-insentif-properti-pemangkasan-ppn-dp-0-persen-tidak-maksimal

https://tirto.id/diskon-ppn-hingga-dp-0-stimulus-perumahan-yang-sulit-ditembus-gbqe